Pencarian Kalung GPS (GPS Collar) Harimau Sumatera Puti Malabin
Oleh Ariq Faizzikri –
Halo Saki SINTAS! Bagaimana kabarnya nih? Semoga dalam keadaan baik dan sehat yaa. Kembali lagi sama aku Ariq, Wildlife Tracking & Database Coordinator di Yayasan SINTAS Indonesia. Kali ini aku ingin sedikit berbagi cerita soal kelanjutan dari pemasangan dan pemantauan harimau sumatera menggunakan kalung GPS.
Masih ingatkah pada cerita sebelumnya dimana SINTAS ikut terlibat aktif dalam pre-release 3 individu harimau sumatera? (kalau belum baca ceritanya, bisa baca di sini! ) Nah, kabar baik terjadi pada salah satu individu harimau tersebut, yakni harimau Puti Malabin. Setelah selesainya masa drop-off (lepas otomatis) dan juga memang sudah waktunya, kami berhasil menemukan kalung GPS Puti langsung di lapangan. Penasaran gimana ceritanya? Yuk simak bareng-bareng!
Jadi, Puti Si Harimau ini merupakan individu harimau sumatera yang sempat mengalami konflik dan telah dievakuasi oleh tim BKSDA Sumatera Barat di sekitar daerah Pasaman pada tahun 2024 lalu. Puti kemudian dititip-rawatkan sementara dan menjalani rehabilitasi di Lembaga Konservasi Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK), Bukittinggi. Setelah dinyatakan layak untuk lepas-liar, dan akan dipantau dengan GPS Collar, Puti dilepas-liarkan kembali ke habitat alaminya di hutan wilayah Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Pemantauan GPS Collar dilakukan selama satu tahun penuh, hal ini untuk mengetahui kondisi serta daerah jelajah Puti di rumah barunya, plus kita juga dapat melihat apabila ada indikasi/respons pergerakan Puti terhadap lingkungan di sekitar masyarakat. Tentunya banyak informasi yang diperoleh dari hasil pemantauan ini seperti bagaimana penggunaan wilayah, daerah hutan kesukaannya, dan lain-lain. Karena itu, teknologi yang dicakup GPS Collar sangat membantu dalam konservasi dan ekologi satwa liar khususnya harimau sumatera.
Mungkin ada teman-teman di sini yang sedikit lupa atau bahkan belum kenal dengan GPS Collar. Mari sini aku beri tahu! Jadi, GPS Collar ialah teknologi yang berfungsi mendeteksi keberadaan satwa berbasiskan prinsip GPS. Bentuknya seperti kalung yang akan mengirimkan sinyal secara berkala dan akan terlepas sendiri begitu masa pemantauan selesai. Pada harimau Puti Malabin, masa lepas otomatis (drop-off) diatur selama setahun, setelah itu kalung akan diperoleh kembali di lapangan.
Tantangan pada kasus Puti adalah ketika sinyal GPS Collar mati sebelum masa drop-off sehingga pencarian harus dilakukan secara manual. Meskipun sinyal GPS dalam posisi non-aktif, kalung GPS masih dapat dilacak menggunakan sinyal radio VHF (Very High Frequency) dengan prinsip pantulan sinyal. Kami merencanakan upaya pencarian di lokasi yang berpotensial tinggi berdasarkan area yang sering dikunjungi Puti Malabin. Koordinasi dengan berbagai lembaga, terutama BKSDA Resort Panti (Kabupaten Pasaman), serta kolaborasi bersama mitra COP (Center of Orangutan Protection) turut menjadi hal penting dalam melangsungkan upaya pencarian ini.

Gambar 1. Proses Pencarian Kalung GPS Puti Malabin
Upaya pencarian berlangsung selama 3 hari. Kami dibagi menjadi 2 tim untuk memudahkan mobilitas dan efektivitas pantauan survei. Kami pergi menggunakan motor, mobil, dan trekking sepanjang jalur yang sudah direncanakan. Pada hari pertama, kami berusaha mencakup area terluas dari rekaman Puti yang terakhir. Antena dan receiver yang kami gunakan memperoleh tanda sinyal ‘’beep’’ pada hari kedua, karena itu kami mempersempit area pencarian pada hari terakhir. Pada hari terakhir ini juga, ditemukan sinyal yang semakin kuat serta berbagai tanda pendukung seperti temuan bangkai babi segar dan jejak tapak harimau. Warga sekitar yang kami jumpai juga mengatakan bahwa ada kemungkinan harimau melintas dan menggunakan lahan mereka dalam beberapa waktu terakhir. Bangkai babi yang kami temukan masih dalam keadaan terjerat, hanya menyisakan kaki yang tergantung di tali jerat, kejadian pemangsaan diduga masih “baru” dan hanya berselang kurang lebih 2 hari sebelumnya. Pada jarak 5 meter juga masih tercium bau bangkai.

Gambar 2. Temuan Bangkai Babi Hasil Pemangsaan Harimau
Melihat adanya bukti dugaan kuat jejak harimau di lokasi, maka kami lakukan penelusuran pada jalur dan menemukan beberapa bekas tapak hewan satwa mangsa (ungulata, kijang, rusa) yang berada berdekatan dengan jejak tapak harimau. Uniknya nih, Saki SINTAS, jejak harimau ini memiliki 2 ukuran, ada yang besar (alias dewasa), ada juga yang kecil, kemungkinan kami menduga ada individu anakan. Tak jauh setelahnya kami melihat kalung GPS berada tepat di samping sebuah pohon. Hal ini juga ditandakan dengan sinyal radionya yang semakin kuat. Yes! akhirnya kami menemukan GPS Collar utuh terlepas otomatis sesuai pada waktunya. Walau sejujurnya dalam hati agak deg-degan yaa guys, karena bisa jadi si harimau masih ada di sekitar, namun kami yakin ini semua dilakukan untuk kelestarian Puti dan kawan-kawan harimau lainnya.

Gambar 3. GPS Collar yang Ditemukan di Samping Sebuah Pohon

Gambar 4. Temuan Bekas Tapak Harimau 1 Individu Dewasa dan 1 Anakan
Setelah pencarian GPS Collar selesai, kami menyampaikan kabar baik dan keseluruhan proses pencarian kepada Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Sumatera Barat. Tentunya kami berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat, atas dukungan tenaga/teknis, materi maupun dukungan moril, sehingga kegiatan ini berhasil dan berjalan lancar.
Kegiatan ini merupakan capaian penting dalam monitoring ataupun upaya konservasi menggunakan GPS Collar, khususnya dengan siklus pemasangan – pemantauan – perolehan kembali Collar yang selesai, bahkan Collar dapat ditemukan dengan kondisi sinyal GPS yang mati (non-aktif).
Semoga semakin lestari harimau dan hutan di Indonesia. Hidup dengan baik di habitat aslinya dan jauh dari segala yang mengganggu.

Gambar 5. Yeyy senangnya ketemu collar! cepat lagi (Tim 2)
Sekian cerita perjalananku kali ini. Terima kasih semuanya!
Kenang-kenangan dokumentasi lainnya




