Menyatu dengan Alam, Belajar dari Lapangan: Cerita Magangku di Yayasan SINTAS Indonesia

Menyatu dengan Alam, Belajar dari Lapangan: Cerita Magangku di Yayasan SINTAS Indonesia

Oleh Ferdinand Sella Saputra – 

Bogor, November 2025, pengalaman ini aku tulis sebagai bagian dari perjalanan magang yang begitu berkesan di Yayasan SINTAS Indonesia — sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada penelitian dan aksi konservasi satwa liar dan tumbuhan langka di Indonesia, salah satunya kucing besar endemik Pulau Jawa, macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Aku, Ferdinand Sella Saputra, mahasiswa Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University, berkesempatan untuk belajar bersama SINTAS dalam kegiatan magang. Selama magang, aku belajar banyak tentang bagaimana dunia konservasi bekerja, mulai dari riset berbasis data spasial hingga kegiatan lapangan yang menantang.

Selama magang, aku berperan sebagai Internship Database and GIS, dengan tanggung jawab utama pada pengolahan data track log Java-Wide Leopard Survey (JWLS) — sebuah proyek besar yang bertujuan untuk memetakan persebaran macan tutul jawa di seluruh Pulau Jawa. Kegiatan magangku dimulai dari pengolahan data GPS menggunakan Garmin BaseCamp, sebuah perangkat lunak yang digunakan untuk mengimpor, menata, dan memvisualisasikan data track log hasil survei di lapangan (Gambar 1). Dari aplikasi ini, aku belajar bagaimana setiap garis dan titik di peta memiliki cerita. Jejak langkah tim survei yang menelusuri hutan, mendaki perbukitan, hingga menembus jalur semak demi merekam tanda keberadaan satwa liar, khususnya macan tutul jawa.

Gambar 1 Pengolahan data track log di aplikasi BaseCamp
Sumber: Dokumentasi pribadi

Kegiatan berikutnya adalah pemetaan menggunakan ArcGIS Pro. Aku berperan dalam pembuatan peta kerja survei JWLS yang siap digunakan untuk perencanaan survei lanjutan (Gambar 2). Proses ini tidak hanya melatih ketelitian teknis, tetapi juga pemahaman ekologis tentang bagaimana lanskap hutan, ketinggian, dan penutupan lahan berperan penting dalam menentukan habitat ideal bagi macan tutul jawa pada proses survei di lapangan. Selain itu, aku juga bertugas mengelola data kamera pengintai (camera trap) menggunakan software Camera Base (Gambar 3). Aplikasi ini digunakan untuk melakukan manajemen data foto dan video hasil kamera pengintai yang dipasang di berbagai titik potensial. Melalui proses identifikasi spesies, pencatatan waktu, dan koordinat lokasi, aku dapat melihat bagaimana data mentah dari lapangan berubah menjadi informasi biologis yang sangat berharga untuk analisis populasi dan perilaku satwa, terutama macan tutul jawa.

 
Gambar 2 Pembuatan peta kerja JWLS
Sumber: Dokumentasi pribadi

Gambar 3 Kisi spesies menggunakan Camera Base
Sumber: Dokumentasi pribadi

 

Salah satu pengalaman paling berkesan datang dari keterlibatan langsung dalam kegiatan Internal Field Training yang diselenggarakan oleh SINTAS Indonesia. Aku tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga turut berperan sebagai panitia pelaksana kegiatan. Sebuah pengalaman yang mengajarkan banyak hal tentang kerja tim, tanggung jawab, dan komunikasi di lapangan. Selama pelatihan, kami belajar navigasi darat menggunakan kompas dan peta topografi untuk menentukan posisi di lapangan. Kegiatan ini sangat penting karena menjadi dasar dalam setiap kegiatan survei satwa liar. Tantangan menemukan titik di medan sebenarnya membuatku lebih menghargai pentingnya orientasi dan presisi dalam pengambilan data lapang.

Kemudian, kami juga melakukan pemasangan sepasang kamera pengintai (camera trap) di dua stasiun pengamatan (Gambar 4). Aktivitas tersebut melatih ketelitian dalam menentukan posisi strategis kamera berdasarkan jalur satwa dan karakteristik habitat. Tak hanya itu, aku juga berkesempatan mengikuti pelatihan bioakustik, dimana kami menggunakan perangkat Audiomoth untuk merekam suara satwa liar di hutan (Gambar 5). Teknologi tersebut membuka cara baru untuk memantau keanekaragaman hayati melalui suara. Selain itu, kegiatan survei lapangan dengan metode line transect untuk pengamatan mamalia dan point count untuk pengamatan burung memberikan pemahaman langsung tentang teknik monitoring satwa liar yang menjadi dasar dari banyak penelitian ekologi di lapangan (Gambar 6).


Gambar 4 Praktik pemasangan kamera pengintai
Sumber: Alda Pransisca


Gambar 5 Praktik bioakustik menggunakan audiomoth
Sumber: Alda Pransisca

Gambar 6 Praktik metode survei line transect dan point count
Sumber: Alda Pransisca

 

Pengalaman magangku tidak hanya berhenti di kegiatan teknis. Aku juga berkesempatan untuk berkontribusi dalam kegiatan komunikasi dan edukasi konservasi bersama tim Communication and Awareness SINTAS. Kami melakukan kampanye konservasi di SD Semut-Semut, Depok, memperkenalkan dunia satwa liar dan pentingnya menjaga ekosistem kepada anak-anak melalui permainan dan cerita interaktif (Gambar 7). Melihat semangat dan rasa ingin tahu mereka menjadi pengingat betapa pentingnya edukasi lingkungan sejak dini. Selain itu, aku juga ikut berpartisipasi dalam open booth SINTAS di Taman Peruri, dalam acara “Langkah Membumi Ecoground”, sebuah kegiatan publik yang mengajak masyarakat lebih peduli pada kelestarian alam (Gambar 8). Di sana, kami berbagi informasi tentang kegiatan penelitian dan konservasi SINTAS, menampilkan hasil kerja lapangan, serta berdiskusi dengan pengunjung tentang isu-isu lingkungan di Indonesia.


Gambar 7 Kampanye konservasi di SD Semut-Semut
Sumber: Ficky Rifky

Gambar 8 Kampanye konservasi di Taman Peruri
Sumber: Ficky Rifky

Dari semua kegiatan tersebut, aku menyadari bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa liar, tetapi juga tentang membangun sistem, mengelola data, berkolaborasi lintas disiplin, dan menumbuhkan kesadaran publik. Melalui SINTAS, aku belajar bagaimana sebuah lembaga konservasi bekerja dengan pendekatan ilmiah dan profesional, dari pengumpulan data lapangan, analisis spasial, hingga advokasi dan edukasi masyarakat.

Bagi aku, magang di SINTAS bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan perjalanan yang memperluas pandangan dan menumbuhkan komitmen pribadi untuk berkontribusi dalam pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Dari mengolah data GPS di BaseCamp, menganalisis peta di ArcGIS Pro, mengelola data satwa di Camera Base, hingga ikut berperan dalam kegiatan edukasi dan kampanye konservasi, semuanya menjadi bagian dari proses belajar yang tak ternilai. Magang ini telah mengajarkanku bahwa setiap data, setiap langkah di hutan, dan setiap interaksi kecil dengan masyarakat, semuanya memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan ekosistem, dan mungkin, dari pengalaman kecil ini, langkahku untuk masa depan di dunia konservasi baru saja dimulai.

Jadi, bagaimana dengan kamu? Apakah siap juga untuk memulai langkah di dunia konservasi? Jika iya, magang di SINTAS bisa jadi kesempatan baik yang harus kamu coba!