Merawat Alam, Merawat Harapan: Jejak Michael Bambang Hartono dalam Konservasi

Merawat Alam, Merawat Harapan: Jejak Michael Bambang Hartono dalam Konservasi

Di suatu tempat sudut hutan yang tak terlihat, ada kehidupan liar yang berjalan seperti biasa.  Suara burung bersahutan, embun pagi menggenang di ujung daun, serta seekor induk macan tutul jawa tengah beristirahat bersama anaknya. Di tempat-tempat seperti inilah, kerja-kerja konservasi dimulai.

Kerja konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Ia tumbuh dari banyak tangan yang saling terhubung dan membantu — dari mereka yang turun langsung ke lapangan, hingga mereka yang memilih terus percaya dan mendukung dari kejauhan.

Dalam perjalanannya, SINTAS Indonesia telah bertemu dan berkolaborasi dengan berbagai mitra yang memiliki tujuan sama, salah satunya ialah PT Djarum. Sejak tahun 2022 hingga sekarang, SINTAS Indonesia bersama PT Djarum bekerja sama melindungi macan tutul jawa di Gunung Muria sebagai salah satu petak macan tutul jawa hidup.

Di balik dukungan PT Djarum, ada sosok Bapak Michael Bambang Hartono yang melihat konservasi bukan sekadar tanggung jawab lembaga, melainkan panggilan pribadi. Dedikasi beliau melalui Djarum Foundation menjadi jembatan antara dunia bisnis dan dunia konservasi, menunjukkan bahwa kepedulian bisa lahir dari berbagai ruang.

Pada tahun 2024, PT Djarum juga turut ambil bagian dalam mendukung Java-Wide Leopard Survey (JLWS), sebuah survei yang diinisiasi oleh SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan untuk mengetahui status populasi macan tutul jawa di seluruh habitat liar yang tersisa di Pulau Jawa. Selain kerja-kerja di lapangan yang terus diperkuat, lewat kegiatan kampanye publik yang dilakukan bersama, pesan tentang pentingnya menjaga macan tutul jawa beserta habitatnya juga terus diperluas.

Bapak Jemmy Chayadi, Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation mewakili PT Djarum menerima sertifikat apresiasi sebagai mitra JWLS dari Bapak Satyawan Pudyatmoko, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

Lebih dari itu, kerja sama ini juga membuka ruang untuk kolaborasi lintas sektor yang semakin relevan di tengah isu konservasi saat ini. Bahwa menjaga alam tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan peran bersama—dari individu, komunitas, hingga sektor swasta.

Dukungan PT Djarum dalam dunia konservasi ini tentunya tidak terlepas dari sosok Bapak Michael Bambang Hartono. Kontribusi beliau tidak hanya terlihat dalam dunia bisnis namun juga aktif dalam kegiatan sosial melalui Djarum Foundation. Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan, budaya, olahraga, dan lingkungan. Bukan hanya sebagai figur di balik sebuah nama lembaga, tetapi sebagai representasi dari bagaimana dukungan dapat diartikan sebagai dampak nyata bagi keberlanjutan.

Bagi Bapak Michael Bambang Hartono, merawat alam berarti merawat masa depan generasi. Visi ini terwujud nyata dalam dukungan terhadap survei macan tutul jawa, yang bukan hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga membuka jalan bagi kebijakan konservasi yang lebih kuat.

Seperti akar yang menopang pohon besar, kontribusi beliau menjadi fondasi yang membuat kerja konservasi tidak goyah. Dari hutan Muria hingga ruang publik, jejak dukungan beliau menyatu dengan langkah macan tutul jawa yang terus dijaga.

Melalui kerja sama yang dilakukan oleh SINTAS Indonesia dan PT Djarum ini, kontribusi terhadap dunia konservasi, khususnya macan tutul jawa, menjadi sebuah harapan baru. Ia menjadi gerakan yang hidup, menyentuh banyak lapisan—dari hutan-hutan hingga ruang publik, dari satwa liar hingga manusia yang hidup berdampingan dengannya. Dan mungkin, sama seperti sudut hutan tadi, banyak dari kerja konservasi ini akan tetap bertumbuh dan berjalan walau tak selalu terlihat, namun terus menjaga kehidupan tetap ada. Karena pada akhirnya, merawat alam sama dengan merawat harapan dan masa depan.

     

” Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan menjaga alam. Warisan Anda bukan hanya tercatat dalam dunia bisnis, tetapi juga dalam denyut kehidupan liar yang terus bertahan. Semangat Anda akan tetap hidup, menyatu dengan suara burung di hutan, embun di ujung daun, dan jejak macan tutul jawa yang terus berlari di alam bebas.”